Pondok Pesantren Wasilatun Najah
Menelusuri Jejak Cahaya, Merawat Tradisi, Menyongsong Masa Depan
Masa Perintisan: Pelita Dakwah di Tanah Legok
Jejak langkah luhur Pondok Pesantren Wasilatun Najah bermula dari pancaran keikhlasan yang dinyalakan oleh dua sosok teladan, Almaghfurlah KH. Arsyadi dan Almarhumah Ustadzah Ummi Hj. Siti Azizah. Keduanya bukan sekadar pendiri, melainkan mata air ilmu yang tak pernah kering bagi dahaga spiritual masyarakat.
Kiprah dakwah beliau berdua menembus batas-batas dinding pesantren. Dengan semangat yang tak kenal lelah, mereka melangkah menyusuri setiap sudut daerah Legok dan sekitarnya, berpindah dari satu mushola ke majelis taklim lainnya. Dalam mendidik para santri dan putra-putrinya, beliau berdua memadukan ketegasan prinsip syariat dengan kelembutan kasih sayang yang begitu syahdu. Ketulusan inilah yang hingga kini membekas dalam memori sanubari anak-anak beliau serta para alumni.
Estafet Perjuangan & Ujian Kesabaran
Setiap perjuangan besar niscaya akan menemui ujian keteguhan. 2001 Duka menyelimuti keluarga besar saat Sang Kiai, KH. Arsyadi, berpulang ke Rahmatullah. Tiga tahun berselang, pada 2004, sang istri tercinta, Ummi Hj. Siti Azizah, menyusul menghadap Sang Khalik.
Kepergian dua pilar utama ini sempat membawa dampak pada rutinitas pondok, di mana jumlah santri perlahan mulai menyusut. Namun, lentera itu menolak padam. Syiar Islam tetap menggema melalui pengajian kaum bapak dan ibu di majelis yang diteruskan oleh putra pertama, KH. Toha Azizi, dan putri kedua, Ustadzah Hj. Habibah. Sementara itu, denyut nadi pengajian "santri kalong" (anak-anak yang mengaji tanpa bermukim) terus dijaga oleh Ust. Ahmad Adadi.
Hingga tiba pada tahun 2008, roda kegiatan pondok dan pengajian kalong harus mengalami masa jeda (vakum), sebuah masa hening yang menjadi awal dari kebangkitan yang baru.
Fajar Kebangkitan: Dari Goresan Tinta Menuju Samudra Ilmu
Cahaya Wasilatun Najah perlahan kembali bersinar terang pada tahun 2012. Di tangan putra ketujuh, Ust. Muhammad Tafaul Nawawi—yang lebih akrab dan penuh takzim disapa Abi Wawi—api semangat belajar itu kembali dinyalakan.
Berbekal ilmu dari berbagai pesantren yang telah beliau singgahi, Abi Wawi memulai langkah kecil nan bermakna dengan mengajarkan keindahan seni kaligrafi kepada keponakannya. Daya tarik keindahan seni Islami ini mengundang teman-teman keponakannya untuk turut serta, hingga terkumpullah sekitar 15 santri kalong. Dari goresan tinta kaligrafi itulah, pengajaran perlahan berkembang pada pendalaman Al-Qur'an dan literasi Kitab Kuning (Nahwu, Shorof, Fiqih, dan cabang keilmuan lainnya).
Puncaknya pada 2014, bangunan pondok kembali didirikan dengan gagah. Majelis ilmu kembali bergemuruh oleh lantunan ayat suci dan kajian kitab.
Melangkah Maju dengan Lentera Masa Lalu
Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT dan ketulusan niat, jumlah santri terus bertumbuh pesat, datang dari berbagai penjuru daerah, bahkan melampaui batas wilayah Legok. Semangat mengajar Abi Wawi tak pernah pudar. Mengikuti jejak mulia sang ayahanda, beliau juga aktif menebarkan manfaat dengan mengisi kajian di berbagai majelis dan daerah.
Dalam memimpin dan mengembangkan Pondok Pesantren Wasilatun Najah, Ust. Muhammad Tafaul Nawawi (Abi Wawi) memegang teguh kaidah emas para ulama salaf:
Dengan filosofi inilah, Wasilatun Najah tidak hanya melestarikan warisan salafus shalih, tetapi juga menghasilkan karya-karya tulis dari tangan Abi Wawi sendiri. Sebuah harapan besar terpanjat, semoga karya-karya tersebut membawa keberkahan dan kemanfaatan yang abadi bagi umat, selaras dengan nama pesantren ini: Wasilatun Najah, yang bermakna "Jalan Menuju Kesuksesan (Keselamatan)".